Langsung ke konten utama

Tugas Review Makalah Psikologi Konseling Islam. Ummi Rojatul Jannah (1904031014). BPI_B


TUGAS REVIEW MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Konseling Islam

Dosen Pengampu : Uswatun Hasanah, M.Pd.I.





Disusun Oleh:
UMMI ROJATUL JANNAH          1904031014




JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM (BPI)
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH (FUAD)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG
T.A. 1441H/2020


DEVINISI PSIKOLOGI KONSELING
KELOMPOK 1

1.    Pengertian Psikologi Konseling
Psikologi konseling adalah proses konseling berupa bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu yang mengalami masalah melalui pendekatan psikologi.
Terdapat banyak kesamaan antara konseling dan psikoterapi. Konselor sering kali mempraktikkan sesuatu yang dipandang sebagai psikoterapi oleh psikoterapis. Demikian juga, psikoterapis sering kali mempraktikan sesuatu yang dipandang sebagai konseling oleh konselor. Meskipun demikian, kedua bidang ini tetap berbeda. Berikut adalah beberapa perbedaan antara konseling dan psikoterapi.
1.    Konseling pada umumnya menangani orang normal. Sedangkan psikoterapi terutama menangani orang yang mengalami ganguan psikologis.
2.    Konseling lebih edukatif, sportif, berorientasi, sadar, dan berjangka pendek. Sedangkan psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan berjangka Panjang.
3.    Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan konkret. Sedangkan psikoterapi sengaja lebih dibuat lebih ambigu dan memiliki tujuan yang berubah-ubah serta berkembang terus.

2.    Fungsi Psikologi Dan Aplikasinya Sebagai Ilmu
fungsi psikologi bagi kehidupan manusia dibagi tiga, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.    menjelaskan objek atau subjek.
2.    Mendeskripsikan
3.    Pengendalian

3.    Tujuan Konseling
1.    Menurut Williamson,
Tujuan konseling adalah mencapai tingkat excellence dalam segala aspek kehidupan klien.
2.    Menurut Kumbolz (1996)
Menjelaskan bahwa tujuan konseling adalah membantu klien belajar membuat keputusan-keputusan. Selain itu membantu klien memecahkan problem-problemnya.
3.    Menurut Shertzer dan Stone, (1980)
a.    Mengadakan perubahan perilaku pada diri konseli sehingga memungkinkan lebih produktif dan memuaskan.
b.    Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif.
c.    Pemecahan masalah
d.   Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.


SEJARAH PSIKOLOGI KONSELING
KELOMPOK 2

1.    Sejarah Perkembangan Psikologi Konseling
Munculnya bimbingan dan konseling di barat tidak lepas dari campur tangan seorang Frank Parsons yang di kemudian hari populer dengan sebutan The Father of Guidance. Dialah yang mendirikan “Vocational Bureau” pada tahun 1908 M atau sekitar abad ke-20. Pada tahun 1908, ia membuka biro konsultasi di Boston untuk memilih dan menentukan jurusan dalam sebuah pekerjaan dan jabatan. Di Indonesia, sekitar tahun 50-an kegiatan itu pertama kali diperkenalkan oleh Slamer Iman Santoso di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

2.    Pengaruh Beberapa Aliran Psikologi Terhadap Konseling
a.    Pengaruh Psikologi Belajar Terhadap Psikologi Konseling
dalam pembelajaran menyatakan bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut klien untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari.
b.    Pengaruh Psikologi Humanisme Terhadap Psikologi Konseling
Aliran psikologi humanisme muncul akibat reaksi atas aliran behaviorisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah.
c.    Pengaruh Psikologi Gestalt terhadap Psikologi Konseling
Psikologi Gestalt memperkenalkan suatu pendekatan belajar yang berbeda secara mendasar dengan teori asosiasi (behaviorism). Teori Gestalt menyebutkan bahwa yang dimaksud belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman.
d.   Pengaruh Psikologi Kognitif terhadap Psikologi Konseling
Aliran kognitif muncul sebagai gejala ketidakpuasan terhadap konsep manusia menurut behaviorisme. Gerakan ini tidak lagi memandang manusia sebagai mahluk yang bereaksi secara pasif terhadap lingkungan, melainkan sebagai makhluk yang selalu berfikir (homo sapiens).

3.    Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Periode kelahiran dan perkembangan BK di Indonesia dapat dibagi menjadi tujuh periode:
  1. Periode sebelum kemerdekaan
  2. Periode 40-an
  3. Periode 50-an
  4. Periode 60-an
  5. Periode 70-an
  6. Periode 80-an
  7. Periode menuju era lepas landas





KARAKTERITIK KONSELING
KELOMPOK 3

1.    Pengertian Konseling
Konseling adalah suatu proses mencakup suatu inetraksi dan komunikasi secara profesi antara seorangg konselor dan klien berkenan dengan permasalahan pribadi dengan maksud untuk menolong klien dalam mengubah tingkah lakunya, sehingga klien dapat menemukan kepuasan dalam pemecahan masalah dan kebutuhannya.
Menurut para ahli ada unsur-unsur pokok yang terdapat dalam kegiatan konseling, yaitu:
1.    Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu yaitu konselor dan konseli.     
2.    Konseling didasari atas penerimaan konselor secara wajar terhadap diri klien, yaitu atas   dasar penghargaan atas hakikat dan martabat klien.
3.    Muara semua kegiatan adalah teratasinya masalah yang dialami oleh klien, sehingga klien dapat mencapau perkembangan yang baik dan menacapai kemajuan.
Ada lima macam pengalaman baru yang dapat diperoleh oleh klien dalam proses konseling :
a.    Mengenali konflik-konflik internal
b.    Menghadapi realitas
c.    Memulai suatu hubungan baru
d.   Meningkatkan kebebasan psikologis
e.    Memperbaiki konsepsi-konsepsi yang keliru

2.    Konseling Sebagai Bantuan
Lewis menggolongkan alasan ke dalam tiga pokok, yaitu :
1.    Seseorang mengalami semacam ketidakpuasan pribadi, dan tidak mampu mengatasi ketidak[uasan tersebut. Ia berusaha supaya dapat mengatasi ketidak puasan, namun ia tidak tahu caranya. Disinilah perlunya bantuan dari orang lain.
2.    Seorang memasuki dunia konseling dengan kecemasan itu bukan  hanya berasal dari beberapa segi kehidupannya yang mengguncang , tetapi juga karena ia menghadapi dirinya sendiri yang memasuki dunia baru dan asing berupa ruangan konseling.
3.    Seseorang yang membutuhkan koneling itu sebenarnya tidak mempuyai gambaran yang jelas tentang sesuatu yang munkin terjadi.

3.    Konseling Untuk Perubahan Perilaku
Tujuan akhir dari proses konseling adalah perubahan tingkah laku kea rah yang lebih positif dan konstruktif. Seorang klien yang dating dengan kondisi psikologis tidak stabil, cenderung bersifat destruktif.
Perubahan tingkah laku bukan hanya menghafal dan mengingat. Namun perubahan tersebut merupakan proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri klien.
Ada beberapa teori  perubahan tigkah laku  berdasarkan pada aliran psikologi melandasinya. Yaitu:
1.    Teori Perubahan Tingkah Laku Behaviorisme.
Proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dengan respond yang menyebabkan klien mempunyai pengalaman baru.
2.    Teori Perubahan Tingkah Laku Kognitif.
Perubahan ini akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.
3.    Teori Perubahan Tingkah Laku Gestalk.
Pokok pandangan ini menegaskan bahwa objek tertentu dipandan sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasi.

4.    Karakteristik Konselor
Ada delapan keterampilan dialogis yang harus dikuasai yaitu :
a.       Keterampilan penghampiran
b.      Keterampilan empati
c.       Keterampilan merangkumkan
d.      Keterampilan bertanya
e.       Keterampilan kejujuran (genuineness)
f.       Keterampilan asertif
g.      Keterampilan konfrontasi
h.      Keterampilan pemecahan masalah

5.    Tahapan-Tahapan Dalam Bimbingan Konseling
1.    Tahapan Awal
Tahap awal merupakan upaya untuk menjalin hubungan baik antara Konselor dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling.
2.    Tahapan Inti
a.    Eksplorasi kondisi klien
b.    Identifikasi masalah dan penyebabnya, Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah
c.    Pengujian dan penetapan alternative pemecahan
3. Tahap Akhir
a.    Analisis
b.    Sintesis
c.    Diagnosis


KOMUNIKASI DALAM KONSELING
KELOMPOK 4

1.    Pengertian Komunikasi
Secara etimologis perkataan komunikasi berasal dari Bahasa Latin yaitu communicare yang berarti berpartisipasi atau memberitahukan. Komunikasi berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Berdasarkan definisi yang dikemukakan ini dapat dijelaskan bahwa komunikasi berkaitan dengan penyampaian sesuatu berupa pesan ataupun pandangan dalam rangka mencari kesamaan pandangan. Unsur-unsur komunikasi:


a.    Sumber.
b.    Pesan.
c.    Media.
d.   Penerima.
e.    Pengeruh atau efek.
f.     Umpan balik atau tanggapan



2.    Macam-macam Komunikasi
Komunikasi ini terdiri atas beberapa jenis, yaitu:
1)   Komunikasi Verbal (Perkataan). Komunikasi verbal mencakup beberapa aspek. Di antaranya adalah sebagai berikut:


a.    Vocabulary (perbendaharaan kata-kata).
b.    Racing (kecepatan).
c.     Intonasi suara.
d.    Humor.
e.    Singkat dan jelas.
f.     Timing (waktu yang tepat)


2)   Komunikasi Nonverbal (Bahasa Tubuh)
Komunikasi nonverbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata. Beberapa hal yang termasuk dalam komunikasi nonverbal adalah sebagai berikut:


a.    Ekspresi wajah
b.    Kontak mata
c.       Sentuhan
d.    Postur tubuh dan gaya berjalan
e.    Sound (suara)
f.     Gerak isyarat



3.    Saluran Komunikasi
a.    Media Lisan.
b.    Media Tertulis.
c.     Media elektrik pesan yang disampaikan secara elektrik dapat menggunakan e-mail, radio, televisi.

4.    Komunikasi Nonverbal dalam Konseling
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata dalam menyampaikan pesan. Contoh komunikasi nonverbal adalah gerak isyarat, bahasa tubuh, serta ekspresi wajah dan kontak mata. Termasuk dalam komunikasi nonverbal adalah penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

5.    Komunikasi Interpersonal
komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang menyertakan dua orang atau lebih dalam tatanan komunikasi secara tatap muka. Komunikasi antarpribadi sebenarnya merupakan satu proses dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya saling mempengaruhi. Sebagaimana diungkapkan oleh Devito bahwa, komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seorang dan diterima oleh orang lain atau sekelompok  orang dengan efek dan umpan balik yang langsung. Ciri-ciri Komunikasi Intrapersonal:
a.    Komunikasi antarpribadi seringkali berlangsung berbalas-balasan.
b.    Komunikasi antarpribadi terjadi secara kebetulan karena tidak pernah direncanakan sebelumnya
c.    Komunikasi anatarpribadi mempunyai akibat yang disengaja maupun tidak disengaja, karena pada dasarnya setiap pertemuan atau percakapan antarpribadi ada yang berdasarkan dari perencanaan atau secara ketidak sengajaan dan terjadi begitu saja.

6. Fungsi Komunikasi Interpersonal
Fungsi komunikasi antarpribadi (interpersonal) adalah berusaha meningkatkan hubungan insan (Human Relations), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain.

7.    Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi dengan diri sendiri. Ini merupakan dialog internal dan bahkan dapat terjadi saat bersama dengan orang lain sekalipun. Sebagai contoh: ketika anda bersama seseorang, apa yang anda pikirkan termasuk dengan komunikasi intrapersonal. Pada komunikasi intrapersonal seringkali mempelajari peran kognisi dalam perilaku manusia.

8.    Teknik Komunikasi dalam Konseling


a.       Menghampiri konseli.
b.      Mendengarkan dengan aktif.
c.       Bersikap empati.
d.      Menangkap pesan.
e.       Memberikan pertanyaan.
f.       Memberikan dorongan minimal
g.      Memberikan arahan kepada konseli.
h.      Menyimpulkan sementara.
i.        Memimpin jalannya konseling.
j.        Memusatkan perhatian pada masalah



MANAJEMEN SETRES
KELOMPOK 5

1.    Teori Stres
Stress menurut Sarafino (Hardjana, 1993) adalah sebagai suatu keadaan yang dihasilkan ketika individu dan lingkungan bertransaksi, baik nyata atau tidak nyata, antara tuntutan situasi dan sumber-sumber yang dimiliki individu menyangkut konsisi biologis, psikologis, atau psikososial.
Teori dasar tentang stress dapat disimpulka dalam 3 variabel pokok adalah sebagai berikut:
a.    Variabel Stimulus
b.    Variabel Respons
c.    Variabel Interaktif
Variabel meliputi 2 teori, yaitu :
a.    Teori Interaksional
b.    Teori Transaksional

2.   Stress pada Setiap Peiode Kehidupan
a.   Stress pada masa bayi
Situasi stress yang umumnya dialami oleh bayi merupakan pengaruh lingkungan yang tidak ramah (unfamiliar).
b.   Stress pada masa anak  
Stress pada anak-anak biasanya bersumber dari keluarga, sekolah, atau teman mainnya.
c.   Stress pada masa remaja
Sumber utama terjadinya stress pada masa ini adalah konflik atau pertentangan antara dominasi peraturan dan tuntutan orang tua dengan kebutuhan remaja untuk bebas atau independence dari peraturan tersebut.
d.   Stress pada masa dewasa
Stress yang dialami oleh orang dewasa pada umumnya bersumber dari beberapa factor. Di antaranya adalah karena kegagalan perkawinan, ketidakharmonisan hubungan dalam keluarga, masalah nafkah hidup atau kehilangan pekerjaan (seperti di-PHK), ketidakpuasan dalam hubungan seks, penyimpangan seksual suami atau istri, perselingkuhan suami atau istri.

3.   Gejala Stress
Gejala stress digolongkan menjadi dua yangi golongan fisik dan psikis. Gejala fisik di antaranya ditandai dengan sakit kepala, sakit lambung (maag), hipertensi (darah tinggi), saking jantung atau sakit berdebar-debar, insomnia (sulit tidur), mudah lelah, keluar keringat dingin, kurang selera makan, dan sering buang air kecil.
Sedangkan gejala psikis dari stress meliputi rasa gelisah atau cemas, kurang dapat berkonsentrasi dalam belajar atau bekerja, sikap apatis (masa bodoh), sikap pesimis, hilang rasa humor, bungkam seribu bahasa, malasa belajar atau bekerja, sering melamun, dan sering marah-marah atau bersikap agresif (baik secara verbal, seperti kata-kata kasar dan menghina; maupun nonverbal, seperti menampar, menendang, membanting pintu, dan memecahkan barang-barang).

4.    Faktor Setres
Factor pemicu stress diklarifikasikan dalam beberapa kelompok yaitu sebagai berikut:
a.  Stressor fisik biologis
b.  Stressor psikologis
c.   Stressor sosial

5.     Pengelolaan (Manajemen) Stress
Manajemen stress adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi tuntutan yang berlebihan.
Faktor-faktor yang mempengarui copingI sebagai upaya mereduksi atau mengatasi stress adalah sebagai berikut :
a.    Dukungan sosial
Mempunyai 4 fungsi yaitu: emotional support, appraisal support, informational support, instrumental support.
b.    Kepribadian
ada beberapa tipe kepribadian adalah sebagai berikut:
1)   Hardines
2)   Optimis
3)   Humoris


KONDISI PSIKOLOGIS YANG MENUNJANG PROSES KONSELING
KELOMPOK 6

1.    Definisi Konseling
Konseling didefinisikan sebagai pelayanan professional (professional service) yang diberikan oleh konselor kepada klien secara tatap muka (face to face) agar klien dapat mengembangkan perilakunya ke arah lebih maju (progressive).

2.    Syarat-Syarat Konseling
Menurut Winkell (1989:87-88), beberapa syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.    Di pihak konselor
1)   Tiga sikap pokok, yaitu menerima (acceptance), memahami (understanding), dan sikap bertindak dan berkata jujur
2)   Kepekaan terhadap apa yang ada di balik kata-kata yang diungkapkan konseli.
3)   Kemampuan dalam hal komunikasi yang tepat (rapport
4)   Memiliki kesehatan jasmani dan mental yang sehat.
5)   Wajib menaati kode etik jabatan sesuai dengan yang telah disusun dalam Konvensi Nasional Bimbingan I.
b.    Di pihak konseli
a.    Motivasi yang mengandung keinsyafan
b.    Keberanian untuk mengungkapkan data-data yang ada dalam dirinya sehingga konselor akan lebih mudah memahami/mengenal konseli secara lebih mendalam.

3.    Kondisi Psikologis Yang Menunjang Proses Konseling
Secara umum kondisi psikologis merupakan keadaan, situasi yang bersifat kejiwaan. Konseling merupakan profesi bantuan (helping pro-fession) yang diberikan oleh konselor kepada konseli yang berlangsung dalam suatu kondisi psikologis yang diciptakan bersama.
Pelayanan konseling berlangsung dalam suatu kondisi psikologis tertentu yang dibina konselor dan difokuskan untuk memfasilitasi konseli agar dapat melakukan perubahan perilaku ke arah yang lebih maju (progressive) sebagai hasil konseling.

4.    RAGAM KONDISI PSIKOLOGIS DALAM KONSELING
a.    Keamanan dan kebebasan psikologis.
b.    Ketulusan dan kejujuran konselor.
c.    Kehangatan dan penuh penerimaan.
d.   Perasaan konselor yang berempati.
e.    Perasaan konselor yang menyenangkan.
f.     Perasaan mencapai prestasi.
g.    Membangun harapan konseli.
h.    Memiliki ketenangan.


TEKNOLOGI DALAM KONSELING
KELOMPOK 7

1.    Pengertian Teknologi
Istilah teknologi berasal dari bahasa Yunani technologia yang menurut Webster Dictionary berarti systematic treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis, sedangkan techne sebagai dasar kata teknologi berarti art, skill, science atau keahlian, ketrampilan, dan ilmu. Jadi teknologi dapat diartikan sebagai pegangan atau pelaksanaan sesuatu secara sistematis, menurut sistem tertentu.

2.    Pengertian Konseling
Konseling sebenarnya merupakan suatu tehnik yang sangat diperlukan dalam pelayanan bimbingan, tetapi tehnik ini merupakan tehnik yang sangat istimewa karena sifatnya yang fleksibel dan komprehensif. Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses yang interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konselig merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Ada lima karakteristik yang sekaligus merupakan prinsip-prinsip konseling. Kelima karakteristik tersebut adalah :
a.    Konseling tidak sama dengan pemberian nasihat (advicement), sebab didalam pemberian nasihat proses berfikir ada dan diberikan oleh penasihat, sedangkan dalam konseling proses berfikir dan pemecahanditemukan dan dilakukan oleh klien sendiri.
b.    Konseling mengusahakan perubahan-perubahan yang bersifat fundamental yang berkenaan dengan pola-pola hidup.
c.    Konseling lebih menyangkut sikap daripada perbuatan atau tindakan.
d.   Konseling lebih berkenaan dengan penghayatan emosional daripada pemecahan intelektual.
e.    Konseling menyangkut juga hubungan klien dengan orang lain.

3.    Jenis-jenis Teknologi yang Digunakan Dalam Konseling
Berikut ini adalah taksonomi konseling jarak jauh yang dibantu teknologi dan konseling tatap muka :
a.    Konseling tatap muka
1)   Konseling individual
2)   Konseling pasangan
3)   Konseling kelompok
b.    Konseling jarak jauh yang dibantu teknologi
1)   Telekonseling
Ø Konseling individual berdasarkan telepon
Ø Konseling pasangan berdasarkan telepon
Ø Konseling kelompok berdasarkan telepon
2)   Konseling internet
Ø Konseling individual berdasarkan e-mail
Ø Konseling individual berdasarkan chat
Ø Konseling pasangan berdasarkan chat
Ø Konseling kelompok berdasarkan chat
Ø Konseling individual berdasarkan video
Ø Konseling pasangan berdasarkan video
Ø Konseling kelompok berdasarkan video
Berikut ini terdapat beberapa cara-cara penggunaan teknologi dalam layanan bimbingan dan konseling, yaitu :
a.    Penggunaan Teknologi E-mail
Salah satu layanan bimbingan konseling melalui teknologi komputer khususnya internet adalah e-counseling. Konseling melalui e-mail sering disebut juga dengan email therapy, online therapy, cybercounseling. E-mail counseling merupakan proses terapeutik yang didalamnya termasuk menulis selain pertemuan langsung dengan konselor.
b.    Penggunaan Teknologi Telepon
Perubahan tatanan kehidupan masyarakat global menuntut pemberian layanan bimbingan dan konseling yang cepat, luas, dan mudah diakses oleh klien. Konseling melalui telepon. Ada etika dan panduan operasional dalam penggunaan teknologi telepon dalam layanan konseling.


HUBUNGAN TERAPEUTIK
KELOMPOK 8

a.    Pengertian Hubungan Terapeutik
Hubungan terapeutik merupakan proses hubungan antara klien dan konselor yang mempunyai nilai-nilai penyembuhan dan akhirnya dapat mencapai tujuan konseling.

b.   Tujuan Hubungan Terapeutik
Menurut Stuart dan Sundeen tujuan umum hubungan terapeutik adalah
a.    Kesadaran, penerimaan dan penghargaan dari klien meningkat
b.    Pemahaman identitas diri dan integrasi diri meningkat
c.    Kemampuan membina hubungan akrab, interpedensi pribadi, keterampilan menerima dan memberi kasih saying meningkat
d.   Pemenuhan kebutuhan diri dan tujuan yang realistis juga meningkat.

c.    Fase-Fase Hubungan Terapeutik
a.    Tahap Persiapan (Prainteraksi)
Pada tahap ini konselor menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya.
b.    Tahap Perkenalan
Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien. Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien.
c.    Tahap Kerja
Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien. Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien.
d.   Tahap Terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir.
d.   Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik
Ø Bertanya
Ø Mendengarkan
Ø Mengulang
Ø Klarifikasi
Ø Refleksi
Ø Memfokuskan
Ø Diam
Ø Memberi Informasi
Ø Menyimpulkan
Ø Mengubah Cara Pandang
Ø Eksplorasi
Ø Membagi Persepsi
Ø Mengidentifikasi Tema
Ø Humor
Ø Memberikan Pujian

e.    Faktor-Faktor Komunikasi Terapeutik
Faktor-faktor penghambat dalam proses komunikasi terpeutik adalah :
a.    Kemampuan pemahaman yang berbeda.
b.    Komunikasi satu arah. 
c.    Memberitahu apa yang harus dilakukan kepada penderita
d.   Membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi
e.    Memberikan kritik mengenai perasaan penderita
f.     Menghentikan/mengalihkan topik pembicaraan
g.    Terlalu banyak bicara yang seharusnya mendengarkan.
h.    Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi
i.      Sikap yang kurang tepat
j.      Kurang pengetahuan
k.    Kurang memahami sistem sosial
l.      Prasangka yang tidak beralasan

f.     Proses Komunikasi Terapeutik Dalam Perawatan
a.    Proses komunikasi : Reference, stimulus yang memotifasi seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dapat berupa pengalaman, ide atau tindakan.
b.    Komunikasi Terapeutik dalam Perawatan:
Ø Pengkajian
Ø Diagnosa keprawatan
Ø Implementasi
Ø  evalusi




SENYUM DAN EMPATI
KELOMPOK 9

1.    Senyum
Senyum merupakan komponen gerakan wajah yang berhubungan dengan dan disebabkan oleh perasaan bahagia atau senang. Sesuatu yang membuat seseorang merasa senang dan bahagia akan menghasilkan senyuman. Bagi konselor, senyuman merupakan salah satu alat untuk memikat daya tarik klien yang selanjutnya meningkat pada hubungan interpersonal, Tersenyum sebagai ekspresi wajah positif merupakan isyarat nonverbal yang paling mudah dikenal. Ekman dan Friesen membedakan senyuman diantaranya yaitu senyum yang dihayati (felt smiles) dan senyuman palsu ( false smiles).

2.    Empati
Empati berasal dari kata pathos (dalam bahasa Yunani) yang berarti perasaan mendalam. Empati membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain tetapi di samping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain.
Konselor atau perawat atau orang-orang yang bekerja memberikan jasa pelayanan kepada orang lain perlu berempati. Tujuannya adalah agar terjadi komunikasi yang baik dengan orang lain. Dalam konteks konseling, empati diperlukan agar tercipta hubungan yang baik dengan klien pada tahap-tahap awal konseling.
Empati terdiri dari dua komponen yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Ketika orang lain berada dalam penderitaan, maka komponen dari empati tersebut akan bekerja.
Menurut Goelman dalam Astuti (2014) menyatakan ciri-ciri orang yang mempunyai empati tinggi yaitu:
a.    Mempunyai kemampuan untuk memahami dan mengerti perasaan orang lain sehingga dapat merasakan apa yang dialami oleh orang lain.
b.    Mampu memahami diri sendiri, Sebelum memahami orang lain maka kita harus memahami diri sendiri terlebih dahulu.
c.    Emosi seseorang dapat dilihat dari bahasa isyarat, oleh sebab itu kita harus memahami bahasa isyarat.
d.   Orang yang mempunyai empati dapat dilihat dari peran yang dilakukan oleh seseorang karena empati akan mewujudkan suatu tindakan.
e.    Orang yang mempunyai empati bukan berarti larut dalam masalah yang dialami oleh orang lain.
Menurut Hoffan dalam Goleman (1999), faktor yang mempengaruhi seseorang dalam menerima dan memberi empati adalah sebagai berikut :
a.    Sosialisasi
b.    Mood dan feeling
c.    Perilaku
d.   Situasi dan tempat
e.    Komunikasi dan bahasa
f.     Pengasuhan
Menurut Davis (dalam Nashori, 2008) secara global ada dua komponen dalam empati, yaitu komponen kognitif dan komponen afektif yang masing-masing mempunyai dua aspek yaitu: Komponen kognitif terdiri dari Perspective Taking (PT) dan Fantacy (FS), sedangkan komponen afektif meliputi Empathic Concern (EC) dan Personal Distress (PD).
Keempat aspek tersebut mempunyai arti sebagai berikut:
a.    Sosialisasi, Kecenderungan seseorang untuk mengambil sudut pandang psikologis orang lain secara spontan.
b.    Fantacy, Kemampuan seseorang untuk mengubah diri mereka secara imajinatif dalam mengalami perasaan dan tindakan dari karakter khayal dalam buku, film atau cerita yang dibaca dan ditontonnya.
c.    Empathic Concern, Perasaan simpati yang berorientasi pada orang lain dan perhatian terhadap kemalangan orang lain.
d.   Personal Distress, Menekankan pada kecemasan pribadi yang berorientasi pada diri sendiri serta kegelisahan dalam menghadapi setting interpersonal yang tidak menyenangkan.


TES MELENGKAPI KALIMAT
KELOMPOK 10

1.    Pengertian  the sacks sentence completion test (SSCT)
SSCT merupakan salah satu alat test kepribadian berbentuk proyeksi yang menggunakan stimulus berupa kalimat-kalimat yang belum selesai. SSCT membutuhkan kemampuan membaca dan memahami yang baik dari sisi klien atau peserta. SSCT tidak dapat diberikan kepada mereka yang belum mengenal baca dan juga tulis. SSCT (Sacks Sentence Completion Test) adalah suatu teknik proyeksi yang digunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang dapat menampakkan diri individu dalam hubungan interpersonal dan dalam interpretasi terhadap lingkungan.

2.    The sacks sentence completion test (SSCT)
The sacks sentence completion test (SSCT) disusun oleh Yoseph M. Sacks dan psikolog-psikolog lainnya yang tergabung dalam New York Veterans Administration Mental Hygiene Service. SSCT dirancang untuk mengungkap 4 area (daerah) penyesuaian diri yang meliputi : keluarga, seks, hubungan interpersonal dan self concept (konsep diri).
Gambaran yang dapat diperoleh dari SSCT meliputi :
a.    Gambaran sikap individu terhadap hal-hal yang penting yang berkaitan dengan penyesuaian (adjustment).
b.    Gambaran keadaan psikis dalam kepribadiannya (kemampuan berpikir terhadap realita, keadaan emosi, cara menyelesaikan konflik, dan lain-lain).
c.    Gambaran konflik atau masalah-masalah yang dialami menyangkut penyesuaian diri (individual adjustment).
d.   Dalam kaca mata klinis dapat menampakkan suatu gangguan sehingga tes ini bermanfaat untuk terapi.

3.    Contoh-contoh Penilaian (Scoring) SSCT
Dibawah ini dikemukakan contoh-contoh Scoring (penilaian) terhadap respond beberapa klien terhadap SSCT pada berbagai kategori. Respond klien skala penilaian, guru menentukan derajat gangguannya. Kata-kata yang dicetak miring adalah merupakan respond klien pada masing-masing item, selanjutnya setiap kategori diberikan ringkasan interpretasi.

4.    Penilaian SSCT
Setelah klien mengisi SSCT, langkah berikutnya adalah memberikan penilaian terhadap jawaban klien, agar letak dan jenis gangguan dapat dideteksi secara mudah maka item-item SSCT harus dikelompokkan berdasarkan aspek-aspek sikap diungkapkan melalui SSCT tersebut.
Lembaran Penilaian
Nama                      :                                               Mulai Pukul     :
Jenis Kelamin         :                                               Selesai Pukul   :
Umur                      :                                               Tanggal           :

SSCT merupakan salah satu test proyektif yang stimulusnya jelas yang memungkinkan orang untuk memproyeksikannya. Asumsi tes ini adalah:
a.    bila seorang disuruh untuk merespont dengan ide yang mula-mula muncul pada dirinya, orang tersebut biasanya memberikan jawaban yang signifikan.
b.    bila seorang dihadapkan pada stimulus yang tidak jelas stukturnya, maka orang tersebut akan memberikan respond yang paling sesuai dengan dirinya, dan
c.    membicarakan orang lainberarti dapat mengungkapkan dirinya sendiri. SSCT dapat digunakan untuk membantu mengungkapkan masalah yang dihadapi olh klien. Madalah-masalah klien tersebut dapat dilacak melalui pertemuan konseling.


KONSELING KHUSUS
KELOMPOK 11

1.    Kebutuhan akan Konseling Indijenes
Indijenes berasal dari kata Indigenous (bahasa Inggris). Secara harfiah artinya pribumi atau asli. Konseling Indijenes adalah konseling yang berdasarkan nilai-nilai budaya suatu masyarakat. Tokoh-tokoh psikologi, psikoterapi, atau konseling di negara-negara di Asia, mengajukan beberapa konsep antara lain sebagai berikut.
a.    Shimizu (1982) dari jepamg mengemukakan terapi Morita.
b.    Mohamad (1982) mengemukakan konsep bimbingan dan konseling, menurut pandangan Islam sebagai salah satu alternatif konseling indijenes di Malaysia.
c.    Konsep psikologi indijenes Filipina dijelaskan oleh Enriquez (dalam Kim dan Berry, 1993).
d.    Konsep psikologi indijenes bagi bangsa Korea dikemukakan oleh Choi dkk (dalam Kim dan Berry, 1993).
e.    Indonesia mengembangkan metode Tasawwuf Islam Tharekat Qadariyah Naksa Bandiyah sebagai terapi terhadap remaja Islam korban penyalahgunaan narkotika dan obat.

2.    Psikologi Indijenes
a.    Psikologi indijenes menguji fenomena psikologi dalam konteks ekologi, sejarah, dan budaya.
b.    Psikologi indijenes dikembangkan pada semua aspek budaya, penduduk asli dan kelompok etnis.
c.    Psikologi indijenes menggunakan multimetode.
d.   Psikologi indijenes terintregrasi secara “insider, outsider” dan multiperspektif untuk mencapai pemahaman yang komprehensif dan integratif.
e.    Psikologi indijenes mengakui bahwa orang mempunyai suatu pemahaman yang kompleks dan sofistikasi terhadap diri mereka dapat menggunakan dalam kehidupan praktis dan sebagai pengetahuan.
f.     Psikologi indijenes merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang dapat ditinjau dari multiprespektif.
g.    Psikologi indijenes pada mulanya berdasarkan hasil riset yang disajikan secara analisis deskriptif, tetapi tujuan akhirnya untuk menemukan konsep-konsep yang universal yang dapat diverifikasi secara teori dan empiris.
h.    Psikologi indijenes merupakan bagian dari pengetahuan budaya tradisional.
i.      Psikologi indijenes berkaitan dengan kemanusiaan yang berfokus pada pengalaman dan kreativitas dengan ilmu pengetahuan sosial.
j.      Psikologi indijenes mulai dari dua titik awal riset yang dapat diindentifikasi melalui indijenes dan tanpa indijenesasi.
Kim dan Berry (dalam Park & Kim, 2006) menjelaskan  indigenous psychology sebagai “the scientific study of human behavior or mind that is native, that is not transported from other regions, and that is designed for its people”.
Variabel Terapis
Variabel Terapis yang diperkirakan memengaruhi hasil konseling meliputi: (1) karakteristik perilaku konselor atau psikoterapis, (2) teknik yang digunakan terapis, (3) terapis, (4) pengalaman, daya tarik, sikap dipercaya, gender, bahasa verbal, bahasa tubuh, kompetensi dan pelatihan yang harus diikuti.
Variabel Klien
Hasil konseling diperkirakan memengaruhi adalah karakteristik klien. Karakteristik klien antara lain sikap terhadap masalahnya, kemauan untuk berubah, motivasi menjalani terapi, kesungguhan mengikuti konseling, persepsi terhadap konselor dan harapan-harapan terhadap konseling.
Hubungan Konseling
Hubungan antara konselor dan klien adalah bahwa adanya perasaan dan sikap klien dan terapis terhadap satu sama lain, dan cara dimana perasaan dan sikap yang diungkapkan (Gelso & Samtag, 2008).
Etika Konseling
Etika konseling adalah aturan-aturan, norma-norma dan ketentuan-ketentuan yang mendasar tentang pelaksanaan dan proses konseling tersebut.
Proses dan Hasil Konseling
Suatu hal yang penting adalah proses dan hasil konseling. Penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam proses konseling merupakan bagian dari psikologi konseling itu sendiri.

3.    Pengembangan Psikologi Indegenous di Indonesia
Mengingat kondisi riset dan kurikulum pendidikan tinggi psikologi di Indonesia yang dalam proses indigenization setara dengan tahap pertama di India, yaitu ada kesadaran perlunya melaksanakan studi berdasarkan isu, konsep dan metode Barat serta diverifikasi untuk pelbagai etnik dan hal itu baru terlihat dalam tesis atau disertasi, maka perlu semacam kampanye penyadaran di antara psikolog sendiri untuk tidak semena-mena mentransfer teori-teori Barat  guna pemecahan masalah di Indonesia.

4.    Metodologi Penelitian Psikologi Indijinus
Secara metodologi penelitian, psikologi indijinus tidak memiliki konsep sendiri, melainkan sama dengan psikologi mainstream. Dengan dasar pemikiran tersebut, metode penelitian kualitatif dipandang lebih sesuai untuk psikologi indijinus, karena lebih bersifat universal dan dapat digunakan untuk mempelajari karakteristik budaya.

5.    Lima Tahap Mengembangkan Konseling Indigenous
Kelima tahapan itu adalah:
a.    Pertama, tahap pionir.
b.    Kedua, Introductory level.
c.     Ketiga, Translation/Modeling.
d.    Keempat, Indigenouzation (pengindigenousan).
e.    Kelima, Integration.

6.    Konseling Terhadap Orang dengan HIV/AIDS
a.    Latar Belakang
Orang yang berpenyakit HIV/AIDS atau disebut juga orang dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah sekelompok orang yang bermasalah, meskipun kadang-kadang sebagian mereka tidak menyadari bahwa mereka bermasalah.
b.   Hakikat Konseling
Konselor perlu memahami hakikat konseling. Hakikat konseling dirinci sebagai berikut:
1)      Proses bantuan oleh konselor terhadap klien.
2)      Menyelesaikan masalah klien, seperti personal, emosional, sosial, karier dan keluarga.
3)      Klien melakukan pengambilan keputusan, sehingga klien merasa nyaman atau bahagia.
4)      Konseling dapat dilakukan secara perorangan, pasangan atau kelompok.
5)      Berfokus pada klien seperti: kebutuhan, masalah dan lingkungan klien.
6)      Dalam proses bantuan tersebut adanya saling kerja sama, mempercayai dan menghargai.
7)      Membangun penerimaan diri, otonomi, tanggung jawab, pemahaman dan pengambilan keputusan yang tepat.
8)      Adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
9)      Tercapainya tujuan konseling yaitu klien merasa puas dan terselesaikan masalah klien.
c.    Makna Konseling
1)   Konseling bukan menasehati.
2)   Konseling bukan mengobrol.
3)   Konseling bukan memerintah.
4)   Konseling bukan menginterogasi.
5)   Konseling bukan memaki-maki.
6)   Konseling bukan mendoakan.
7)   Konseling bukan membujuk.
d.   Perbedaan Konseling ODHA dengan Konseling Umum
Konseling ODHA berfokus kepada:
1)   Membantu klien agar tes HIV.
2)   CD4/Viral Load.
3)   Layanan konseling pra dan pascates.
4)   Menilai perilaku beresika terinfeksi HIV (menularkan atau tertular).
5)   Menggali sejarah perilaku seks dan kesehatan klien.
6)   Memfasilitasi perubaham perilaku.
7)   Meningkatkan konfidensi (isu stigma dan diskriminasi).
8)   Sasaran kelompok-kelompok yang khusus (pecandu napza, penjaja seks, homoseks, lesbian, waria).
Konseling umum berfokus pada:
1)   Bantuan kepada klien agar dapat mengatasi masalah, pribadi, sosial dan emosional.
2)   Bantuan kepada seseorang agar dapat meningkatkan salah satu aspek kehidupan seperti keterampilan bergaul.
3)   Bantuan kepada klien agar dapat mengambil keputusan karier secara mantap.
4)   Kelompok sasaran adalah remaja, orang dewasa, dan orang tua yang mempunyai masalah selain ODHA.
e.    Tujuan Konseling ODHA
1)   Dukungan psikologis (emosi, sosial, spiritual).
2)   Pencegahan penularan HIV (informasi perilaku berisiko (seks aman, penggunaan jarum suntik), keterampilan pribadi untuk perubahan perilaku dan negoisasi praktik lebih aman.
3)   Untuk memastikan efektivitas rujukan kesehatan, terapi dan perawatan melalui pemecahan masalah kepatuhan berobat.
f.     HIV/AIDS
1)   Virus berbahaya karena merusak sistem kekebalan tubuh.
2)   Belum ada obat untuk menyembuhkan, yang ada memperlambat penyebaran virus tersebut.
3)   Obat memperlambat penyebaran virus dikonsumsi seacara rutin, tepat waktu dan jangka panjang.
4)   Pengetahuan tentang HIV/AIDS perlu diberikan secara dini.
5)   Menghindari narkoba dan seks bebas.
6)   Keterbukaan penderita akan mempermudah penanganannya.
7)   Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya dan replikasi virus HIV ke dalam tubuh seseorang.
g.    Kesehatan Mental Pasien HIV/AIDS
Alexander A. Schneiders dalam Semiun menjelaskan indikator dalam kesehatan mental, yaitu: efisiensi mental merupakan penggunaan kapasitas secara efektif dalam mengamati, membayangkan, belajar, berpikir, memilih, dan juga mengembangkan terus menerus fungsi-fungsi mental sampai suatu tingkat efisiensi yang lebih tinggi; pengendalian, integrasi pikiran, dan tingkah laku; integrasi motifmotif serta pengendalian konflik dan frustasi; perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang positif serta sehat; ketenangan atau kedamaian pikiran; sikap-sikapyang sehat; konsep diri yang sehat; serta identitas ego yang kuat.
h.   Hari AIDS Sedunia
1)   Kesenjangan informasi HIV/AIDS.
2)   Masih tabu.
3)   Masyarakat belum terbuka.
4)   Masyarakat mengucilkan ODHA.
5)   Masyarakat bersikap negatif terhadap penderita HIV/AIDS.
6)   Perlu usaha-usaha preventif.
7)   Penyebaran HIV/AIDS perlu dicegah atau dieliminir.
i.      Konseling Sukarela dan Testing = Voluntary Counseling and Testing (VCT)
Konseling HIV/AIDS adalah hubungan interpersonal yang bersifat rahasia antara konselor dan klien untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan HIV/AIDS. VCT dilakukan pada setiap intervensi minimal pada pra dan pasca tes HIV.
a.    Konseling dalam VCT
b.    Metode dalam VCT
c.    Alasan penyelenggaraan VCT adalah:
1)   Pencegahan HIV.
2)   Pintu masuk menuju terapi dan perawatan.
3)   Kebijakan VCT dari United Nations adalah berbasis pada kebutuhan dan informed consent.
4)   United Nations tidak pernah mendukung tes wajib karena terbukti tes wajib tidak efektif.
d.   Konseling HIV/AIDS
e.    Tujuan Umum Konseling ODHA adalah:
1)   Menyediakan dukungan psikologik.
2)   Pencegahan penularan HIV.
3)   Memastikan efektivitas rujukan kesehatan.
4)   Menghindari dampak negatif kepada yang bersangkutan dan lingkungan sosial.
5)   Pasien HIV/AIDS dapat merencanakan dan meningkatkan kualitas hidupnya.
f.       Bagaimana Caranya Agar Konselor Mencapai Tujuan Tersebut?
1)   Memungkinkan orang untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan.
2)   Menggali pilihan dan membantu klien membangun rencana tidak tentang masalah yang dihadapi.
3)   Membangkitkan perubahan perilaku yang sesuai.
4)   Menyediakan informasi terkini tentang prevensi, terapi dan perawatan HIV/AIDS.
5)   Memberikan informasi tentang sumber dan institusi yang daoat membentuk kesulitan sosial, ekonomi dan budaya yang timbul berkaitan dengan HIV.
6)   Menolong menghubungi orang kontak institusi yang dapat membantu bagian dari tugas konselor adalah mempertahankan kesadaran dan komunikasi diri dengan semua institusi terkait di masyarakat. Harus ada izin dari klien sebelum melakukan rujukan kepada institusi luar.
7)   Membantu pasien memperoleh dukungan dari jejaring sosial, keluarga, dan teman-teman mereka.
g.    Metode Dukungan
1)   Pendidikan dan bimbingan terhadap klien tentang perilaku seks aman.
2)   Kesejahteraan klien dalam menjalani kehidupan.
3)   Advokasi klien artinya memastikan klien apakah sudah atau belum mengunjungi fasilitas kesehatan yang diperlukan. Membantu klien menanggapi masalah diskriminatif dan pendokumentasian masalah hukum.
4)   Bantuan staf medik, misalnya pemecahan masalah tentang buruknya kepatuhan berobat.
5)   Dukungan psikologik kepada ODHA.
6)   Penilaian neuropsikologik HIV dapat menyebabkan perubahan dalam sistem saraf pusat secara nyata yang dapat mengganggu kondisi kognitif, psikiatrik, dan neurologik. Klien diberi rujukan kepada spesialis saraf dan/atau psikiater jika diperlukan.
j.     Proses Konseling
Secara garis besar ad tiga langkah proses konseling ODHA yaitu persiapan, tahap action (pelaksanaan) dan tahap akhir yaitu terminasi. Langkah-langkah tersebut dirinci menjadi lima tahap sebagai berikut:
a.    Tahap Satu Merupakan tahap persiapan
b.    Tahap Dua Membangun hubungan baik dan terapeutik
c.    Tahap Tiga Definisi dan pemahaman peran konselor dan klien
d.   Tahap Empat Proses konseling pada fase eksplorasi dan tindak lanjut
e.    Tahap Lima Menutup atau mengakhiri konseling.


KODE ETIK PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING INDONESIA (ABKIN)
KELOMPOK 12

1.    Pengertian
Etika adalah suatu sistem nilai dan moral yang merupakan aturan tentang apa yang harus atau perlu dilakukan, tidak boleh dilakukan dan dianjurkan untuk dilakukan atau ditugaskan dalam bentuk ucapan atau tindakan dan perilaku oleh seseorang atau kelompok orang dalam rangkaian budaya tertentu.

2.    Landasan Legal
Selain anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ABKIN, landasan legal kode etik profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah:
a.    Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 NKRI dan Bhineka Tunggal Ika
b.    Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
c.    PP RI No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (pasal 28 ayat 1, 2 dan 3 Tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
d.   PP RI No. 24 Tahun 2008 Tentang Guru
e.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
f.     Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 27 Tahun 2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor
g.    Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) yang disusun dan diberlakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mulai Tahun 2003/2004
h.    Panduan Pengembangan Din yang disusun dan diberlakukan oleh Pusat Kurikulum Badan Pengembangan dan Penelitian Pendidikan sejak tahun 2006.

3.    Kualifikasi
Kualifikasi konselor adalah anggota ABKIN yang minimal Sarjana Pendidikan (S-I) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan tamatan Pendidikan Profesi Konselor.

4.    Kompetensi
Konselor memiliki kompetensi sebagai berikut:
a.    Memahami secara mendalam klien yang hendak dilayani
b.    Menguasai landasan teoritik keilmuan pendidikan dan bimbingan dan konseling
c.    Menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap klien
d.   Mengembangkan pribadi dan profesionalitas diri secara berkelanjutan

5.    Kegiatan Profesi
a.    Praktik Pelayanan Secara Umum
1)   Dinamika Pelayanan
2)   Hubungan konselor dengan klien
b.    Praktik Pada Unit Kelembagaan
c.    Praktik Pada Unit Keluarga
d.   Praktik Mandiri

6.    Tujuan Penegakan Dan Penerapan Kode Etik
a.    Menjunjung tinggi martabat profesi
b.    Melindungi masyarakat dari perbuatan malpraktik
c.    Meningkatkan mutu profesi
d.   Menjaga standar mutu dan status profesi
e.    Penegakan ikatan antara tenaga profesi dan profesi yang disandangnya

7.    Kode Etik Bimbingan dan Konseling di Indonesia sebagaimana disusun oleh ABKIN
Memuat hal-hal berikut:
a.    Kualifikasi
Bahwa konselor wajib memiliki:
1)   nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan dan wawasan dalam bidang Bimbingan dan Konseling
2)   Memperoleh pengakuan atas kemampuan dan kewenangan sebagai Konselor
b.    Informasi, testing dan riset
1)   Penyimpanan dan penggunaan informasi
2)   Testing, diberikan kepada Konselor yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya
3)   Riset, menjaga prinsip-prinisp sasaran riset serta kerahasiaan
c.    Proses pada pelayanan
1)   Hubungan dalam pemberian pada pelayanan
2)   Hubungan dengan klien
d.      Konsultasi dan hubungan dengan rekan sejawat atau ahli lain
1)   Pentingnya berkonsultasi dengan sesama rekan sejawat
2)   Alih tangan kasus apabila tidak dapat memberikan bantuan kepada klien tersebut
e.    Hubungan kelembagaan; memuat mengenai aturan pelaksanaan layanan konseling yang berhubungan dengan kelembagaan
f.     Praktik mandiri dan laporan kepada pihak lain
1)   Konselor praktik mandiri, menyangkut aturan dalam melaksanakan konseling secara private
2)   Laporan kepada pihak lain.
g.    Ketaatan kepada profesi
1)   Pelaksanaan hak dan kewajiban
2)   Pelanggaran terhadap kode etik

8.    Kewajiban Seorang Konselor
Sebagai seorang konselor, hendaknya menunjukkan sikap dan perilaku sebagai berikut:
a.    Berusaha meciptakan suasana dan hubungan konseling yang kondusif
b.    Berusaha menjaga sikap objektif terhadap klien
c.    Mengekplorasi faktor penyebab masalah-masalah psikologis, baik masa lalu maupun masa kini
d.   Menentukan kerangka rujukan atau perangkat kognitif terhadap kesulitan klien dengan cara yang dapat dimengerti klien
e.    Konseling memiliki strategi untuk mengubah kembali perilaku salah suai, keyakinan irasional, gangguan emosi dan menyalahkan diri sendiri
f.     Mempertahankan transfer pemahaman tentang perilaku baru yang diperlukan klien dalam kehidupan sehari-harinya
g.    Menjadi model atau contoh sosok yang memiliki sikap sehat dan normal
h.    Menyadari kesalahan yang pernah dibuat dan resiko yang dihadapi
i.      Dapat dipercaya dan mampu menjaga kerahasiaan
j.      Memiliki orientasi diri yang selalu berkembang
k.    Ikhlas dalam menjalankan profesinya

9.    Permasalahan dalam Penerapan Kode Etik Profesi Bimbingan dan Konseling
Kode etik profesi bimbingan dan konseling seperti yang telah dipaparkan di atas belum sepenuhnya terimplementasikan secara baik. Masih banyak terjadi kekeliruan dalam pelaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling yang justru dilakukan oleh guru BK/Konselor sekolah itu sendiri. Terkait dengan implementasi kode etik bimbingan dan konseling, ditemukan hasil bahwa Guru BK atau konselor sekolah memiliki pemahaman yang relatif rendah terkait dengan kode etik BK, bahkan yang mengejutkan yakni sebagian konselor sekolah tidak mengenal kode etik BK.
                                                
10.    Ketaatan Pada Profesi
a.    Pelaksanaan hak dan kewjiban
1)   Dalam melaksanakan hak dan kewajibannya, konselor wajib mengaitkannya dengan tugas dan kewajibannya terhadap klien dan profesi sesuai dengan kode etik untuk kepentingan dan kebahagian klien
2)   Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya sebagai konselor untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud lain yang merugikan klien atau menerima komisi atau membalas jasa dalam bentuk yang tidak wajar
b.    Pelanggaran terhadap kode etik
1)   Konselor wajib mengkaji secara sadar tingkah laku dan perbuatannya bahwa ia menaati kode etik
2)   Konselor wajib senantiasa mengingat bahwa setiap pelanggaran terhadap kode etik dapat merugikan diri sendiri, klien, lembaga, dan pihak lain yang terkait
3)   Pelanggaran terhadap kode etik mendapatkan sanksi berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh ABKIN.


Komentar


  1. Materi dan penjelasanny sih udah bagus dan lengkap.. tapi jarak antar kata atau kalimat ada yg renggang...

    BalasHapus

  2. Materi dan penjelasanny sih udah bagus dan lengkap.. tapi jarak antar kata atau kalimat ada yg renggang...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UTS Bimbingan Konseling Perkawinan_Ummi Rojatul Jannah 1904031014_BPI Semester 3

  UTS Bimbingan   Konseling Perkawinan   Nama                : Ummi Rojatul Jannah NPM                : 1904031014 Jurusan             : Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Kelas                : B Semester           : 3   Soal:   1.     Jelaskan arti Cinta menurut anda! Jawab: Cinta adalah sebuah kisah yang dituliskan oleh setiap orang. Kisah tersebut mereflesikan sebuah kepribadian, minat, dan perasaan seseorang tehadap suatu hubungan. [1] Cinta itu artinya siap menerima hidup berkelimpahan tapi disatu sisi juga rela untuk hidup terjebit dalam kebutuhan-kebutuhan hidup yang bahkan sangat mendasar. [2] Cinta itu merup...

MENGINSTAL SISTEM OPERASI WINDOWS 10

TUGAS INTERNET DAN WEB BLOG   MENGINSTAL SISTEM OPERASI WINDOWS 10 Disusun Guna Memenuhi Tugas Internet Dan Web Blog   Dosen Pengampu : Toto Andri Puspito, M.Ti.   Disusun Oleh :   Ummi Rojattul Jannah                     1904031014 KELAS LB 17     BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM (BPI) FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH (FUAD) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG T.A. 1442/202 1   MENGINSTAL SISTEM OPERASI WINDOWS 10 Jika komputer sudah menyala dengan normal, kemudian di install dengan sistem operasi windows 10 atau yang anda inginkan agar komputer Anda bisa langsung Anda gunakan. Siapkan DVD installer windows 10 terlebih dahulu. Agar booting pertama kali dari DVD, silakan setting terlebih dahulu boot device priority pada menu BIOS. 1.       Nyalakan atau restart komputer/laptop an...